Minggu, 16 Oktober 2011

Sehatnya Berwudhu




Bagian-bagian tubuh yang terkena air wudhu adalah bagian tubuh terbuka. Bagian inilah yang sering kali dihinggapi berbagai kuman penyakit, sehingga kehadiran kuman-kuman ini akan menambah kuman-kuman yang memang sudah terdapat dikulit. Menurut ilmu bacteria (mikro bacteriology), 1cm persegi dari kulit kita yang terbuka bisa dihinggapi lebih dari 5 juta bakteri yang bermacam-macam.

Perkembangan bakteri di kulit tersebut sangat cepat. Salah satu faktor yang paling memengaruhi perkembangannya adalah keseimbangan asam basa (pH). Bisa dikatakan pH permukaan kulit inilah yang melindungi tubuh dan membatasi perkembangan kuman yang menimbulkan penyakit. Ketika membasuk kulit dengan air wudhu, maka secara langsung akan memengaruhi kesimbangan pH dan kelembaban sehingga akan membuat sel kulit kembali normal.

Manfaat wudhu bagi kesehatan sedah banyak mendapatkan perhatian ahli-ahli kesehatan. Salah satu pakar kesejatan yang melakukan kajian ilmiah tentang wudhu adalah Dr. Magomedov. Asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di Daghestan State Medical Academy. Menurut dokter Magomedov, wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alam, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, mirip dengan titik-titik refleksologi Cina.

Kalau untuk mempelajari titik-titik refleksi Cina bisa diselesaikan dalam waktu 15-20 tahun, dengan wudhu menurut Dr. Magamedov bisa diselesaikan dengan cepat dan sederhana. Dan, keunggulan lainnya refleksi dengan wudhu tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga mencegah masuknya penyakit.

Apa yang diungkapkan Dr. Magamedov bukan isapan jempol belaka. Ketika seseorang melakukan wudhu, 61 sampai 65 titik refleksi merupakan bagian-bagian yang terkena basuhan wudhu. Titik-titik tersebut merupakan saraf-saraf yang berhubungan dengan organ-organ tubuh manusia yang sering kali menimbulkan penyakit akut seperti ginjal, jantung, paru-paru, darah tinggi, dan kanker. Ketika melakukan wudhu titik tersebut akan terrefleksi sehingga selain bisa mengobati bisa juga mencegah terjadinya penyakit-penyakit akut tersebut.

Friends and Love


Ada ungkapan” jadilah lilin yang bisa menerangi sekeliling meskipun diri sendiri hancur lebur berkeping” sekilas terkesan bego dan tolol (orang lain enak enak, kok malah kita yang hancur).

Dan memang bisa dikatakan itu hanyalah perbuatan orang oarang tolol belaka, namun bila diteliti sejenak kita akan dapati prinsip dasar dalam pergaulan dan persahabatan yang sangat mulia dan tinggi nilainya, yaitu memperlakukan setiap orang menurut derajatnya, seperti memperlakukan orang tua dengan rasa hormat, orang orang yang sebaya diperlakukan dengan keramahtamahan, orang yang muda dengan kasih sayang. menghindari kebencian, iri hati, dan segala bentuk penyakit hati juga slalu menerima dengan tulus ihlas nasehat dari siapa saja.
Dalam persahabatan tidak diperkenankan menjelek jelekkan orang dibelakang orang itu atau bertindak tidak jujur atau saling mengata ngatai satu sama lain, karena persahabatan yang dimulai dengan niat ihlas tanpa pamrih atau tidak mengharapkan balasan tidak akan putus hanya karena kata caci maupun perbuatan keji. begitulah prinsip persahabatan yang dilakukan oleh para sufi, wali dan nabi yang slalu hidup dengan kualitas terpuji, bertindak dengan benar dan dapat dipertanggung jawabkannya.


Namun kita hanyalah manusia biasa, mampukah tuk berbuat dalam persahabatan seperti sufi, wali dan nabi? pasti semua kan menjawab tidak. Kita hanyalah manusia biasa yang dalam pergaulan menganut berbagai faham, asas manfaat dan sebagainya, jika kita bertindak seperti halnya lilin orang lain akan mentertawakan kebodohan yang telah kita lakukan. so dalam pergaulan… lakukan apa yang anda anggap baik buat teman sebagaimana teman memperlakukan dengan baik, bila ada sedikit asas manfaat yang digunakan dalam pergaulan usahakan sifat tersebut janganlah mendominasi tujuan persahabatan tersebut.


Kata cinta adalah kata yang tak asing lagi di dengar dan di diskusikan oleh orang orang, sejak zaman Nabi Adam hingga kini belum ada suatu komitmen yang jelas tentang apa itu cinta dan bagaimana itu cinta, yang ada hanyalah kesimpulan sementara belaka, olehnya itu ada baiknya bila gue nulisin dikit tentang apa itu cinta, sebagai masukan dan penambah wawasan buat elo elo pada, kali aja ada manfaatnya.


Berbicara mengenai cinta tidak terlepas dari defenisi cinta itu sendiri baik dari segi bahasa maupun istilah untuk sampai ke inti dan pokok dari cinta tersebut.


Inspirasi - Belajar Bersyukur



Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.